-->

Sidang Lanjutan SPI Batu Diwarnai Aksi Demo, Hotma Sitompul: Jangan Jadi Hakim Jalanan!

Sidang Lanjutan SPI Batu Diwarnai Aksi Demo, Hotma Sitompul: Jangan Jadi Hakim Jalanan!
Hotma Sitompul mengingatkan agar tuntutan harus disertai bukti. Hal ini ia sampaikan terkait aksi demo saat persidangan kasus SPI Batu, Rabu (20/7/2022). (Dok. Eko)

CekFAKTA.net - Sidang perkara dugaan kekerasan seksual di SMA SPI Kota Batu telah memasuki agenda pembacaan tuntutan. Namun, sidang yang sedianya digelar Rabu (20/7/2022) itu akhirnya ditunda dengan dalih Jaksa Penuntut Umum (JPU) masih mempelajari berkas laporan.

"Ya, karena banyak sekali (berkasnya), bahkan hingga ratusan lembar berkas yang akhirnya kami sampaikan jika tuntutan memang harus ditunda. Selain itu juga ada beberapa alasan analisa yuridis bagi kami untuk meyakinkan majelis hakim, untuk menunda pembacaan tuntutan terhadap terdakwa," kata JPU Pengadilan Negeri (PN) Malang, Edi Sutomo.

Sementara itu, di luar ruang persidangan ratusan massa yang mengatasnamakan Komnas PA dan beberapa aliansi elemen dari perlindungan anak menggelar aksi demo.

Mereka menyuarakan tuntutan terhadap terdakwa JE yang dinilai bersalah dalam kasus ini.

Menanggapi aksi itu, kuasa hukum JE berpendapat jika itu merupakan hak masyarakat.

Meski demikian, menurut kuasa hukum JE, tuntutan itu harus disertai bukti.

Untuk diketahui, tim kuasa hukum JE terdiri dari Hotma Sitompoel, Jeffry Simatupang, Ditho Sitompul, dan Philipus Harapenta Sitepu.

"Tapi ini yang harus ditekankan, jangan jadi hakim jalanan mari kita kawal, mari kita awasi, jangan mempengaruhi persidangan. Maka dari itu hati-hati," kata Hotma Sitompul saat ditemui di luar gedung persidangan, Rabu (20/7).

"Jangan menjustifikasi bila ada orang masih diduga bersalah, maka harus membuktikan," kata Hotma menambahkan.

Jajaran kuasa hukum JE juga mengingatkan, sepatutnya masyarakat menghormati proses persidangan hingga tuntas. Termasuk tidak mengundang opini publik yang belum tentu kebenarannya.

Dalam hal ini, Jeffry Simatupang menyoroti kegiatan podcast yang melibatkan terduga korban, yang menurutnya kurang mengindahkan proses sidang yang sejauh ini selalu dilakukan secara tertutup.

"Mengapa justru pelapor safari ke podcast-podcast itu pertanyaan kami? Sekali lagi, jangan mempengaruhi, menekan, mengintervensi Aparat Penegak Hukum (APH). Karena hukum harus berjalan di relnya. Oleh karena itu, kami peringatkan jangan sekali lagi menyebarkan fitnah dengan mempengaruhi masyarakat, seolah-olah klien kami bersalah tanpa adanya pembuktian. Setop di podcast, hormati persidangan." tegas Jeffry.

Menurut laporan, jadwal sidang selanjutnya aka digelar Rabu (27/7/2022) pekan depan untuk agenda yang sempat tertunda.