-->

Waspada! Ini 4 Dampak Negatif Berita Hoax

Dampak negatif berita hoax 

CekFAKTA.net - Tidak seorangpun yang menyatakan hoax memiliki manfaat positif. Semua pasti sepakat jika hoax memiliki dampak negatif. Selain membahayakan kesehatan mental, hoax juga bisa jadi awal munculnya perpecahan.

Kesalahan informasi yang disajikan akan menjadi bola liar yang mengundang asumsi publik maupun opini di luar nalar.

Hal yang tak masuk akal pun akan 'di goreng' sedemikian rupa agar berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Bibit perpecahan pun akan semakin tak terkendali. Sehingga masyarakat diminta untuk lebih waspada terhadap peredaran berita-berita bohong tersebut.

Dilansir dari QNetIndonesia.com, berikut ini dampak negatif dari berita hoax. Setidaknya ada 4 dampak buruknya yang bisa terjadi pada kejiwaan seseorang maupun bagi masyarakat secara luas.

4 Dampak Negatif Berita Hoax

Berikut rincian poin dari 4 dampak negatif berita hoax beserta penjelasannya.

1. Buang-buang waktu dan uang

Melansir situs CMS Connect via QNetIndonesia, membaca berita hoax disebutkan dapat membuat seseorang menjadi rugi waktu. Hal ini dikarenakan produktivitas dapat menurun akibat efek yang ditimbulkan berita hoax. Orang akan cenderung terus memikirkan berita tersebut seraya menghitung peluang dampak yang akan diterimanya.

Lalu apa kaitannya dengan rugi uang?

Bayangkan saja, jika suatu perusahaan memiliki karyawan yang kurang produktif, pasti kinerja mereka juga akan terpengaruh dan imbas paling nyata adalah finansial perusahaan.

Terlebih jika yang menjadi korban hoax adalah perusahaan tersebut, akan semakin runyam urusannya.  Reputasi suatu perusahaan akan dipertaruhkan jika menjadi korban hoax.

2. Jadi jalan melakukan peretasan

Saat korbannya panik karena doktrin berita hoax, di situlah kesempatan bagi penjahat siber untuk melancarkan aksinya.

Misalnya, penjahat mengirimkan berita yang membuat korbannya panik melalui email. Di saat itu juga ia coba menawarkan bantuan berupa solusi yang terkadang disertai link ke luar dari halaman email. Saat korbannya percaya lalu klik tautan tersebut maka dalam sekejap penjahat siber dapat dengan mudah mengambil alih akun-akun penting milik korbannya.

Yang ditakutkan adalah jika akun yang diretas merupakan akun perbankan alias akun bank. Maka perlu waspada jika mengetahui motif seperti ini.

Ada lagi, motif membagikan info undian berhadiah yang menyatakan korban telah memenangi undian tersebut. Di mana hadiah dapat diklaim dengan membuka tautan yang telah dikirimkan. Padahal, setelah membuka tautan itu maka sistem di internet yang telah dirancang sedemikian rupa oleh pelaku akan merugikan korbannya.

3. Penipuan publik

Pelaku kejahatan siber atau biasa disebut cybercrime biasanya membuat kabar bohong di muka publik. Salah satunya bertujuan untuk menarik simpati publik. Ketika publik merasa iba, disitulah ia merasa korban satu-persatu dengan dalih mengumpulkan sumbangan.

Salah satu contohnya pernah terjadi di ACS (American Cancer Society), yakni sebuah lembaga kanker Amerika. Pada saat itu, tersebar kabar hoax yang menyatakan bahwa mereka membutuhkan uang untuk biaya operasi gadis kecil yang menderita kanker.

Dari berita tersebut kemudian banyak orang yang tertipu dengan mengirimkan sejumlah uang pada nomor rekening yang tertera pada berita tersebut.

Setelah ditelusuri ternyata hal itu hoax semata. Dan uang sudah terlanjur masuk ke kantor pelaku penyebar hoax.

4. Membuat resah dan kepanikan

Berita hoax sudah pasti membuat panik. Namanya berita palsu pasti dibumbui dengan naskah yang dilebih-lebihkan, padahal tidak sesuai fakta.

Beberapa hoax juga sengaja dibuat untuk memicu kepanikan publik. Seperti halnya sebuah pesan yang mengabarkan adanya perampokan di Surabaya yang mana pelakunya menyilet wajah para korban. Ada juga yang sengaja mengabarkan hilangnya sebuah pesawat Garuda dengan jurusan Jakarta-Palu.

Hoax semacam ini sangat berbahaya terlebih jika korbannya adalah keluarga dari yang diberitakan. Padahal yang diberitakan dalam kondisi baik-baik saja, namun keluarga yang terlanjur memercayai berita tersebut akhirnya menjadi panik luar biasa.

Untuk itu, diperlukan kesadaran dan edukasi masif kepada masyarakat khususnya pengguna internet, agar lebih bijak memanfaatkan teknologi, serta memiliki kemampuan dalam membedakan berita asli dan palsu.

Adapun cara menghindari berita hoax adalah dengan bergabung ke forum atau grup-grup yang ada di sosial media yang aktif mengecek berita hoax tersebut.

Selain itu, biasanya komunitas pegiat literasi media juga sering melakukan pelatihan secara gratis bagi masyarakat agar bisa mengecek berita bohong tersebut secara mandiri.

Mulai sekarang biasakan bijak dalam berinternet, ya!

Terapkan prinsip saring sebelum sharing, jangan asal membagikan informasi yang belum pasti kebenarannya.