-->

Saring Sebelum Sharing, Jangan Asal Sebar Informasi!

Saring Sebelum Sharing, Jangan Asal Sebar Informasi!
Saring Sebelum Sharing

CekFAKTA.net - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, tak bisa dipungkiri laju penyebaran informasi sangat begitu cepat. Dalam waktu singkat sebuah pesan atau informasi bisa sampai ke banyak pembaca sekaligus. Sayangnya, dari sekian banyak informasi tersebut tidak semuanya dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Dengan kata lain, masih diragukan keabsahan atas berita yang beredar.


Perkembangan teknologi tersebut tak lantas dapat membuat setiap orang bersikap bijak dalam memanfaatkannya. Selalu ada saja tangan usil yang mengetik, menyebarkan, dan membuat narasi seolah apa yang ia sebarkan akan berdampak pada si pembaca mulai dari satu dua orang, hingga akhirnya meluas sampai tak terhingga.


Di situlah pentingnya memahami prinsip Saring Sebelum Sharing. Artinya, perlunya menyaring sebuah informasi, cari tahu dulu validitasnya, barulah dapat disebar sebanyak dan seluas yang dia mau. Karena bahaya laten dari informasi palsu yang disebar akan membentuk sebuah paham, gagasan, bahkan gerakan yang bisa saja merugikan.


Pentingnya menerapkan paham 'Saring Sebelum Sharing' bukan hanya berlaku bagi si pembuat kabar, melainkan juga si penerima. Bijaknya, pilah, telusuri, dan cari tahu dulu kebenaran informasi yang ia terima sebelum akhirnya ikut menyebarkannya.


Saring Sebelum Sharing merupakan sikap bijak sebagai seorang warganet atau orang yang biasa menggunakan internet sebagai media untuk mendapatkan dan mendistribusikan sebuah informasi.


Dirujuk dari situs Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), perlunya melakukan literasi digital sebagai langkah cerdas, tepat, dan cermat demi menjaga keamanan situasi di tengah masyarakat yang serba bergantung pada piranti teknologi.


Selain itu, hal ini juga dapat menghindarkan dari tindakan kejahatan digital berkat ulah orang tak bertanggung jawab tersebut melalui kebohongan informasi yang dia sebarkan tersebut.


Menurut Ismail Cawidu, Tenaga Ahli Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Ditjen IKP), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), dalam Webinar Seri Forum Diskusi Publik bertema "Pentingnya Literasi Digital untuk Keamanan dan Terhindar dari Kejahatan Internet", yang digelar Ditjen IKP Kominfo RI bekerja sama dengan Komisi I DPR RI, pada Rabu 14 Juli 2021 lalu, ia mengatakan setidaknya ada tiga alasan kenapa literasi digital begitu penting saat ini.


Pertama, sebagai proteksi (safeguard), yaitu perlunya kesadaran atas keselamatan dan kenyamanan pengguna internet seperti data keamanan pribadi, keamanan daring serta privasi individu.


Kedua, Kedua, berkaitan dengan hak (right), yakni terkait kebebasan berekspresi yang dilindungi, Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dan berserikat dan berkumpul.


Dan yang ketiga, pemberdayaan (empowerment), menyangkut pemberdayaan pengguna internet agar mampu menghasilkan karya yang produktif, jurnalisme warga, dan kewirausahaan serta hal-hal yang berkait etika informasi.


Semakin bertumbuhnya jumlah pengguna internet, artinya semakin besar pula potensi kesalahan informasi yang diterima masyarakat jika proses penyebarannya tanpa melibatkan sistem literasi yang berperan dalam menyaring keabsahan informasi tersebut. Terlebih tanpa menyebutkan klasifikasi kalangan usia tertentu, karena pada dasarnya penyebaran berita palsu dapat dilakukan oleh siapa saja atas dasar kepercayaan yang mereka yakini sendiri. Padahal, seharusnya perlu mendahulukan pertanyaan 'Benarkah berita tersebut?' atau 'Mungkinkah itu terjadi?' sampai ia menemukan kepastian atas informasi yang diterimanya, sebelum akhirnya ikut mempublikasikan ke berbagai platform.


Pada intinya, bijaklah dalam menggunakan fasilitas dalam era kemajuan zaman ini dengan sebaik mungkin. Cermat mengamati informasi, jangan asal sharing (membagikan) tanpa tahu kebenarannya. Mari berkomitmen pada diri sendiri untuk bersedia menyaring sebelum menyebar sebuah berita. Saatnya lawan berita palsu - Turn Back Hoax!